Que : Pelajaran di Bilik Penjara
“Que, jangan pernah kau ulangi segala
perbuatanmu itu!” Fris menasehatiku dengan
suara lantang dan tegas.
"Kamu tau semua tidak dapat dibenarkan, bahkan oleh semut kecil pun.” Nafasku menderu menahan sesal yang teramat
kuat.
“Aku melakukan ini semua sebatas untuk bisa bertahan hidup, Fris.”
“Aku melakukan ini semua sebatas untuk bisa bertahan hidup, Fris.”
“Tapi
kan bukan begitu caranya. Masih banyak hal lain yang bisa kamu lakukan, aku sangat
yakin kamu bisa, Que.” Fris mengataiku lagi, kemudian ia pergi.
Ingatan akan pembicaraan dengan Fris, sahabat sejatiku, tadi siang sangat
menggangguku.
Pagi, siang, malam, selalu kulewati di kamar berukuran kecil. Angin malam setia menemani kesendirianku.
“Que,”
panggil seorang berbadan tegap dan berkepala plontos di siang yang sudah mulai terasa. Ku beranjak bangun dari tempat tidurku yang
ekstra kecil, “Ada tamu,” katanya lagi
sembari kedua tangannya membuka
gembok kamarku.
“Lyd,”
kataku saat kutemui gadis bernama Lyd telah duduk di hadapanku, di ambang
jeruji besi berbentuk bulat.
“Que,” desahnya pelang sembari jemarinya menggenggam erat jemariku, dan setetes demi setetes air mata kesedihan bercampur kerinduan menggelinding pelang di atas pipinya yang bulat.
“Aku rindu kamu, Que,” ucapnya lagi di sela isakan tangisnya. Aku diam dan menunduk. Aku turut merasakan kerinduan dan kesedihan yang mendalam. Tidak seharusnya aku berada di tempat ini.
“Que,” desahnya pelang sembari jemarinya menggenggam erat jemariku, dan setetes demi setetes air mata kesedihan bercampur kerinduan menggelinding pelang di atas pipinya yang bulat.
“Aku rindu kamu, Que,” ucapnya lagi di sela isakan tangisnya. Aku diam dan menunduk. Aku turut merasakan kerinduan dan kesedihan yang mendalam. Tidak seharusnya aku berada di tempat ini.
“Kenapa
kamu lakukan ini semua, Que? Kenapa?”
Mata berlinang Lyd menatapku tajam, mata yang penuh ketidakpercayaan atas apa
yang sudah kulakukan.
“Lyd,”
ucapku pelan mengayun. Saat kukedipkan mata sesaat, Ia telah menghilang.
“Lyd, Lyd.......” panggilku semakin
lama semakin keras. Tak lama, seorang petugas menarikku dan mengamarkanku
lagi.
***
Empat tahun
kemudian...
Aku telah
menyelesaikan masa hukumanku, pemandangan indah kembali terlihat di kedua bola mataku yang sayu. Entah kemana harus
kulangkahkan kedua kakiku ini, semua orang yang kucintai dan kusayangi pergi
meninggalkanku. Mereka sangat tidak menerima statusku sebagai seorang penipu
dan seorang mantan narapidana.
Untuk sekedar
mencari kerja, aku pun mengalami kesulitan. Setiap tempat yang kukunjungi selalu sama,
yaitu tidak menerima mantan seorang narapidana. “Apakah ini konsekuensi yang harus kuterima setelah keluar dari
tempat yang disebut sebagai tempat memeperbaiki diri itu?” tanyaku dalam hati. Dan untuk
menyambung hidup, aku menekuni pekerjaan sebagai seorang buruh bangunan.
Di sini, aku
mengenal seorang kepala proyek, bernama Ibu Lidia. Hampir setiap soremalam hingga dihabiskan olehnya di tepi taman yang harum
semerbak tak jauh dari tempatku bekerja.
“Ibu kenapa setiap
sore hingga malam selalu menghabiskan
waktu di tempat ini?” tanyaku saat
kuberanikan diri menemuinya di bawah indahnya sinar rembulan.
“Coba
kamu lihat bintang itu, ia begitu setia menerangi bumi,” katanya padaku sambil mengarahkan pandangannya ke angkasa, “ Ia tak akan pernah
meninggalkan malam, ia begitu setia menunggu sampai fajar tiba, walau fajar tanpa perasaan rela
meninggalkannya dan menggantikannya dengan
cahaya matahari.”
“Maksudnya,
Bu?” tanyaku tak mengerti.
“Ah,
lupakan saja,” jawabnya. “Dulu aku pernah mencintai seseorang seperti
bintang itu, tapi ia
menyakitiku.”
“Lho?”
gumamku bingung.
“Ia
penipu, ia telah menipu orang yang aku sayangi, yaitu ayahku,”
“Terus?”
tanyaku lagi penasaran.
“Ia
kemudian dibui, dan aku menjadi sang fajar.”
“Aku
nggak paham.”
“Aku
meninggalkannya, Que.”
“Seandainya
orang itu kembali mencarimu, apa yang akan kamu lakukan?”
Ia
terdiam mendengar tanyaku, “Aku belum tau,” balasnya.
“Seandainya
lagi, orang yang kamu sayangi itu telah berubah, kamu akan berkata apa jika ia
datang dan menemuimu?”
Ia
kembali terdiam, keningnya sedikit berkerut.
“Itu,
aku juga belum tau akan berkata apa. Oh ya, bagaimana denganmu?”
Aku
terperanjak, berat rasanya untuk bercerita padanya.
“Aku
ditinggalkan kekasihku saat masih di penjara,” jawabku pelan.
“Kasihan
sekali kamu, Que.”
“Ah,
biasa aja, Bu.”
“Terus?”
“Terus,
aku menjadi buruh seperti saat ini.”
“Maaf, bukan bermaksud menyibak luka di hatimu,” ucap Bu Lidia lagi menyadari raut mukaku yang berubah drastis.
“Maaf, bukan bermaksud menyibak luka di hatimu,” ucap Bu Lidia lagi menyadari raut mukaku yang berubah drastis.
“Ini,”
aku mengambil sebatang tangkai bunga yang sudah mengering dari dompetku. “Hanya
ini yang masih tersisa. Dulu, lima tahun
yang lalu, bunga ini masih berwarna merah, sekarang hanya berbentuk tangkai nya aja yang masih tersisa. Semua orang yang
kucintai pergi meninggalkanku, begitu juga teman-temaknku,
mungkin karena statusku sebagai seorang penjahat.”
“Jangan
berkecil hati, Que. Semua pasti akan berubah menjadi baik asalkan kamu bisa engambil pelajaran dari semua yang
telah terjadi.”
“Que,
boleh aku tau siapa nama kekasihmu yang begitu rela meninggalkanmu di saat kamu
benar- benar membutuhkan
dukungannya?”
Aku
terkejut bukan kepalang. Hatiku kembali berdetak kencang tak karuan.
“Lyd
Semiola Febry”
Wajah
Bu Lidia berubah seketika, matanya tajam menatapku.
“Kamu
nggak salah nama?” tanya Bu Lidia seakan mengetahui sesuatu.
“Aku
sangat yakin, Bu.” Aku menjawab dengan
lantang, “ini tangkai bunga yang dibawanya saat terakhir kali ia mengunjungiku di
penjara,” lanjutku sambil mengangkat
tangkai bunga mawar yang mengering.
Sejurus
kemudian, Ibu Lidia memeluk tubuh kurusku, “Que, ini aku Lyd,” ucapnya di balik telingaku.
Aku
sejenak terdiam shock mendengar pengakuan dari Bu Lidia yang mengaku sebagai
Lyd.
“Lyd?”
tanyaku sambil melepas pelukannya.
“Iya,
aku Lyd, Lyd Semiola Febry,” katanya lantang sambil meneteskan air mata haru.
“Tapi,
Lyd,” ucapku terbata-bata.
“Tapi
kenapa?”
“Aku
adalah seorang mantan narapidana. Dan aku adalah fajar.”
“Fajar
yang akan selalu datang di saat sinarku akan redup,” lanjut Lyd tersenyum, kemudian memelukku kembali.
***@@@***