Selasa, 21 Oktober 2014

Saat Senja Merasuki Jiwa

Saat Senja Merasuki Jiwa

Matahari telah pergi. Cahayanya kini berganti bayangan awan yang putih gemilang. Sementara semilir angin nan lembut terus mengayun menyapu pelan deraian rambut hitamku yang panjang.
Iya, senja yang indah, yang menyejukkan jiwa kini menghampiriku. Sejenak ku larut dalam  ingatan lalu yang sangat indah, yang senantiasa mengisi hari-hariku.
Senja, akankah kau segarkan kembali masa itu? Masa di mana aku, aku jatuh, jatuh yang sangat menyakitkan. Bukan hanya di ragaku, tapi juga jiwaku.

Wajahmu kental di ingatanku. Wajahmu selalu hadir dalam setiap sisi-sisi hatiku. Tapi, kenapa kau pergi?



Tulisan ini terpaksa harus di cut. Terlalu menyakitkan *hiks



Senin, 13 Oktober 2014

Cinta Tanpa Syarat Joe



Cinta Tanpa Syarat Joe


            Disebuah gubuk reot tinggal seorang Ibu dan seorang anak bernama Joe.
Joe, cowok sederhana, pendiam, tinggi, putih dan
cool. Ibunya berprofesi sebagai tukang jahit. Ayahnya telah meninggal, sejak Joe bersekolah di salah satu SMA negeri di Jakarta. Joe mempunyai seorang sahabat kental bernama Alex. Mereka bersahabat dari masa anak-anak hingga sekarang.
            Waktu dengan cepat berlalu, Joe bukan lagi anak SMA. Ia kini menjadi salah satu mahasiswa di salah satu universitas negeri favorit di Jakarta. Joe memiliki seorang kekasih bernama Chicka, cewek yang memilik kuasa dan merasa paling cantik seantero kampus. Mereka sudah berpacaran 3 tahun, waktu yang cukup lama untuk menyatukan dua hati dari dua species yang berbeda. Banyak kerikil-kerikil dalam hubungan mereka. Tak jarang mereka ribut karena hal-hal sepele. Joe sangat mencintai dan menyayangi Chicka, begitu pun sebaliknya.
            Di sebuah taman di kampus Joe dan Chicka biasa menghabiskan waktu istirahat mereka. Mereka duduk di rerumputan taman. Joe menatap lekat sepasang mata kekasihnya sembari bilang“Love u bie”.  “Love u too honey”, ucap Chicka membalas ucapan kekasihnya. “Kamu cantik bie”, puji Joe ke kekasih tercintanya. “Ah kamu bisa aja honey, Aku kan cantik demi kamu”, ucap Chicka dengan nada manja. Begitulah tingkah sepasang sejoli yang sedang dimabuk asmara.
            Namun, keesokan harinya, situasi tak sehangat kemarin.  Joe berselisih paham dengan Chicka. “Aku gasuka ya honey kamu ikut balapan-balapan liar gitu”, ujar Chicka kepada Joe. “Bie.. kamu ga bisa egois gitu dong. Ini kan hobby aku”, ujar Joe dengan nada yang agak tinggi. “Di kampus pagi itu, Joe terlibat pertengkaran hebat dengan Chicka. “Satu lagi... aku ga suka kamu bergaul dengan cewe-cewe lain selain aku dan anggota genkku”, ujar Chicka ketus. “Stop bie.. aku ga suka sama sikap kamu yang over protective ke aku. Aku mau kita end”, ujar Joe pada Chicka. “Honey plissss jangan putusin aku, aku cinta banget sama kamu”, ujar Chicka dengan mata menahan tangis.
            Usai pertengakaran itu, Joe melangkahkan kakinya ke perpustakaan dengan hati gundah. Saat di perjalanan, tanpa disengaja ia bertubrukan dengan Dessy, cewe cupu, berambut pendek yang dikuncir dua, yang ternyata adik kelasnya semasa SMA. Joe menjatuhkan semua buku yang dibawa Dessy.
            Hari berikutnya, Joe dan Dessy sudah saling akrab. Dari kejauhan, mata-mata Chicka mengawasi mereka berdua yang tengah duduk di tepi taman kampus yang indah sembari bersenda gurau. Mata-mata Chicka yang tak lain adalah anak buah genknya segera melapor peristiwa itu ke Chicka. Dengan rasa kesal, Chicka segera menghampiri kedua temannya. Mereka bertiga pun melabrak Joe dan Dessy yang sedang asik ngobrol.
            Chicka yang naik pitam langsung memaki, menghina dan merendahkan Dessy. “Heh emangnya lo siapa berani-beraninya dua-duaan sama cowo gw”, ujar Chicka pada dessy ketus. Sementara Joe, berusaha membela Dessy. “Cowo?? Ga salah denger? Lo dan gw udah ga ada hubungan apa-apa lagi, ngerti”, bentak Joe pada Chicka.
            Semenjak kejadian itu, Dessy selalu dibully oleh Chicka and the genk. Dessy bukan tipe cewe cengeng. Ia dengan sekuat tenaga selalu berusaha membela dirinya sendiri. . Tapi apa daya, ia hanya seorang diri. Ia tak sanggup melawan tiga orang sekaligus. Ia hanya pasrah menerima perlakuan mereka..
            Saat balik dari kampus, Joe mendapati Dessy sedang berjalan kaki, searah dengan jalan pulang menuju rumahnya. Ternyata Dessy tinggal tak jauh dari rumah Joe. Alangkah lebih kagetnya Joe saat dia mengetahui Dessy adalah tetangganya. Joe dan Dessy pun sering pulang bersama. Chicka pun semakin menmbenci Dessy dan semakin membully Dessy.
            Hubungan Joe dan Dessy semakin akrab. Mereka sering menghabiskan waktu di taman dekat komplek. Mereka juga keluar bersama untuk makan malam.. “Des.. dinner diluar yuk”, ajak Joe pada Chicka. “Cewe lo ga marah kalo kita dinner bareng?”, tanya Dessy polos pada Joe. Lama kelamaan, benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Joe telah jatuh cinta pada  gadis cupu itu. Begitu juga Dessy. Tapi, Bu Anik, ibunda Dessy, tidak setuju dengan kedekatan Joe dan anaknya. Dessy telah dijodokan dengan seorang pemuda , anak pengusaha batubara tersohor di Indonesia, lulusan luar negeri, bernama Ryan. Dessy pun bersikeras menolak perjodohan itu. Ia memilih kabur dari rumahnya.
            Semenjak kepergian Dessy, Joe tertekan. Ia merasa bersalah. Melihat Joe yang patah semangat, Chicka berusaha menggodanya untuk balikan. :Honey....balikan yuk”, ucap Chicka sembari bersandar dibahu Joe. Joe tak bergeming. Ia tetap pada pendiriannya untuk mencintai gadis cupu itu. “Love you dessy duck”, batin Joe.
            Saat Joe sedang mengikuti KKM di kampung sebelah, ia tak sengaja bertemu lagi dengan dessy ducknya. Tanpa sadar ia joget-joget sanking senangnya. Semua orang menertawakannya. Joe pun segera sadar dan berhenti. Dessy ternyata tinggal bersama neneknya. Di sinilah cinta mereka bersemi kembali. Joe berusaha membujuk Dessy untuk kembali ke kampung tempatnya tinggal. “Aku mau kamu jangan pergi lagi dari hidupku”, ucap Joe pada Dessy sembari berlutut. “Iya aku mau balik kesana asal bersama kamu”, jawab Dessy mantap. Joe berhasil meluluhkan hati Dessy.
            Sekembalinya Dessy ke rumahnya yang dahulu ditinggalinya bersama ibunya, calon suami Dessy, Ryan, menyambutnya di depan rumah. Alangkah terkejutnya Ryan ketika melihat calon istrinya menggandeng Joe. Ryan tak terima dan memukul Joe. Joe diam dan memilih angkat kaki dari rumah Dessy. Dessy syok melihat kejadian itu dan masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Ryan sendirian di depan rumah.
            Setelah sekian lama tak berjumpa, rasa rindu keduanya pun tak dapat dibendung lagi. Dessy kabur saat ibunya sedang mencuci dan segera menemui Joe di tempat mereka biasa bertemu. Diwaktu yang bersamaan, Alex, teman Joe juga ada disana.  Joe tak percaya akan aksi nekat Dessy. Tapi, aksi nekat Dessy diketahui oleh Ryan. Dengan emosi yang semakin berkecamuk dalam dadanya, Ryan kembali melabrak Joe. Kali ini Joe tak tinggal diam. Ia meyadari betapa besar cinta yang ditunjukkan Dessy padanya. Terjadilah perkelahian. Chicka dan genknya yang berniat menemui Joe dirumahnya mendapati Joe dan Ryan sedang terlibat perkelahian yang luar biasa. Dengan cara licik, Chicka coba mempengaruhi Ryan. Beberapa menit kemudian, Bu Anik muncul, setelah mendengar kabar dari para tetangga. Bu Anik sangat marah. Ia segera berlari menuju tkp. Ia menarik tangan Dessy, Namun  Dessy berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Bu Anik.  “Lepasin Bu..”, ujar Dessy pada Ibunya. Bu Anik semakin mempererat genggaman tangannya di tangan kanan Dessy hingga Dessy pun merintih kesakitan.
            Melihat Dessy seperti itu, Ryan terdiam. Hati kecilnya merasa bersalah. Dan kemudian, ia mengikhlaskan Dessy untuk hidup bersama Joe. Sementara Chicka, pergi dengan hasil nihil dan berusaha turut ikhlas. Joe dan Dessy akhirnya hidup bahagia.

Sinopsis sederhana: Kado Natal untuk Ibu



Kado Natal untuk Ibu

Helly Anthony

Bulan Desember seperti biasa, Keluarga Grace bersip menyambut Natal. Ayahnya, Ibunya, dan Yunita, adik perempuan satu-satunya.
Grace (26 tahun) seorang mahasiswi cantik di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung. Dia memiliki seorang adik perempuan bernama Yunita (18 tahun) yang masih duduk di bangku SMA. Grace selalu dimanja oleh Ayahnya dan Ibunya. Yang paling memanjakannya adalah sang Ayah. Hidup mereka bahagia.
Jelang skripsi, ayahnya meninggal karena kecelakaan saat berangkat kerja. Hal itu sangat memukul kejiwaannya. Karena tidak tahan dengan cobaan hidup yang dirasanya sangat berat, ia mulai terjerumus dalam kehidupan dunia malam. Mabuk-mabukan, ngedrugs, dan tindakan criminal lainnya.
Ibunya tidak sanggup dan terpukul dengan perubahan sikap dan tingkah laku Grace. Ia menderita sakit jiwa dan dirawat di rumah sakit jiwa.
Melihat kondisi Ibunya yang sakit jiwa, Yunita, adiknya Grace, yang masih duduk di kelas tiga SMA, sangat berharap untuk melihat Ibunya segera sembuh dan kembali normal seperti biasa. Dan ia berusha menyadarkan sang kakak dengan harapan Grace akan kembali pada kehidupannya yang dulu. Yang sangat menyayangi keluarganya. Segala upaya pun dilakukannya. Termasuk menolongnya dari berbagai macam ancaman yang dihadapi Grace. Tapi semua berkahir nihil. Grace tetap pada jalannya sendiri tanpa memikirkan kondisi Ibunya yang sedang sakit jiwa karena ulahnya.
            Hingga suatu ketika, ia dibui selama lima tahun karena tindakan kriminalnya. Mengetahui Grace di bui, Yunita berusaha mencari bantuan hukum untuk Grace. Di dalam penjara, Grace menyadari semua kesalahannya dan bejanji untuk bertobat.  Seorang suster selalu mendatanginya, mengajarinya berdoa, menerima keadaan dengan lapang dada. Tapi, hatinya masih ragu apakah sang Ibu yang masih menderita gangguan kejiwaan akan mengenalnya? Apakah sang Ibu akan memaafkannya?
            Lagi-lagi sang adik menguatkannya. Memastikan kalau Ibunya akan mau memaafkannya.
            Selepas menjalani hukumannya, Grace mengunjungi Ibunya. Awalnya Ibunya tidak mengenali dirinya. Tapi, dengan bantuan Yunita, Ibunya bisa kembali mengingat Grace dan memaafkannya. Yunita berhasil menyajikan kado Natal terindah buat Ibunya. Ibunya pun sembuh sehari setelah pertemuan dengan Grace. Natal yang indah kini menghampiri mereka. Grace menjadi kado Natal terindah bagi Ibunya dan juga adiknya Yunita.


Senin, 15 September 2014

Cerpen Que



Que : Pelajaran di Bilik Penjara

      “Que, jangan pernah kau ulangi segala perbuatanmu itu!”  Fris menasehatiku  dengan  suara  lantang dan tegas. "Kamu tau semua tidak dapat dibenarkan, bahkan oleh semut kecil pun.”  Nafasku menderu menahan sesal yang teramat kuat.  
        “Aku melakukan ini semua sebatas untuk bisa bertahan hidup, Fris.”
      “Tapi kan bukan begitu caranya. Masih banyak hal lain yang bisa kamu lakukan,  aku sangat  yakin   kamu bisa, Que.”  Fris mengataiku lagi, kemudian ia pergi. Ingatan akan pembicaraan dengan  Fris,   sahabat sejatiku, tadi siang sangat menggangguku.

Pagi, siang, malam, selalu kulewati di kamar berukuran kecil. Angin malam setia menemani kesendirianku.
         “Que,” panggil seorang berbadan tegap dan berkepala plontos di siang yang sudah mulai terasa.  Ku beranjak bangun dari tempat tidurku yang ekstra kecil, “Ada tamu,” katanya lagi sembari kedua  tangannya membuka gembok kamarku.
        “Lyd,” kataku saat kutemui gadis bernama Lyd telah duduk di hadapanku, di ambang jeruji   besi       berbentuk bulat.   
        “Que,” desahnya pelang sembari jemarinya menggenggam erat       jemariku,  dan    setetes demi setetes air mata kesedihan bercampur kerinduan menggelinding pelang di atas pipinya    yang bulat.      
      “Aku rindu kamu, Que,”  ucapnya lagi di sela isakan       tangisnya. Aku diam dan menunduk.  Aku  turut merasakan kerinduan dan kesedihan yang   mendalam.   Tidak seharusnya aku berada di tempat ini.
     “Kenapa kamu lakukan ini semua, Que? Kenapa?”  Mata berlinang Lyd menatapku tajam,    mata yang penuh ketidakpercayaan atas apa yang sudah kulakukan.
   “Lyd,” ucapku pelan mengayun. Saat kukedipkan mata sesaat, Ia telah menghilang. “Lyd,     Lyd.......” panggilku semakin lama semakin keras. Tak lama, seorang petugas menarikku dan  mengamarkanku  lagi.
***
Empat tahun kemudian...
      Aku telah menyelesaikan masa hukumanku, pemandangan indah kembali terlihat di kedua     bola mataku yang sayu. Entah kemana harus kulangkahkan kedua kakiku ini, semua orang    yang kucintai dan kusayangi pergi meninggalkanku. Mereka sangat tidak menerima statusku sebagai seorang penipu dan seorang mantan narapidana.
     Untuk sekedar mencari kerja, aku pun mengalami kesulitan. Setiap tempat yang kukunjungi selalu sama, yaitu tidak menerima mantan seorang narapidana. “Apakah ini konsekuensi      yang harus kuterima setelah keluar dari tempat yang disebut sebagai tempat memeperbaiki    diri itu?” tanyaku dalam hati. Dan untuk menyambung hidup, aku menekuni pekerjaan sebagai seorang buruh bangunan. 
     Di sini, aku mengenal seorang kepala proyek, bernama Ibu Lidia.  Hampir setiap soremalam  hingga  dihabiskan olehnya di tepi taman yang harum semerbak tak jauh dari tempatku bekerja.
     “Ibu kenapa setiap sore hingga malam  selalu menghabiskan waktu di tempat ini?” tanyaku    saat kuberanikan diri menemuinya di bawah indahnya sinar rembulan.
    “Coba kamu lihat bintang itu, ia begitu setia menerangi bumi,” katanya padaku sambil         mengarahkan  pandangannya ke angkasa, “ Ia tak akan pernah meninggalkan malam,  ia  begitu setia menunggu    sampai fajar   tiba, walau fajar tanpa perasaan rela meninggalkannya dan menggantikannya dengan  cahaya  matahari.”
      “Maksudnya, Bu?” tanyaku tak mengerti.
     “Ah, lupakan saja,”  jawabnya.  “Dulu aku pernah mencintai seseorang seperti bintang itu, tapi ia      menyakitiku.”
      “Lho?” gumamku bingung.
      “Ia penipu, ia telah menipu orang yang aku sayangi, yaitu ayahku,”
      “Terus?” tanyaku lagi penasaran.
      “Ia kemudian dibui, dan aku menjadi sang fajar.”
      “Aku nggak paham.”
      “Aku meninggalkannya, Que.” 
      “Seandainya orang itu kembali mencarimu, apa yang akan kamu lakukan?”
Ia terdiam mendengar tanyaku, “Aku belum tau,” balasnya.
    “Seandainya lagi, orang yang kamu sayangi itu telah berubah, kamu akan berkata apa jika ia datang  dan menemuimu?”
Ia kembali terdiam, keningnya sedikit berkerut.
      “Itu, aku juga belum tau akan berkata apa. Oh ya, bagaimana denganmu?”
Aku terperanjak, berat rasanya untuk bercerita padanya.
     “Aku ditinggalkan kekasihku saat masih di penjara,” jawabku pelan.
     “Kasihan sekali kamu, Que.”
     “Ah, biasa aja, Bu.”
     “Terus?”
     “Terus, aku menjadi buruh seperti saat ini.” 
   “Maaf, bukan bermaksud menyibak luka di hatimu,” ucap Bu Lidia lagi menyadari raut mukaku yang berubah drastis.
    “Ini,” aku mengambil sebatang tangkai bunga yang sudah mengering dari dompetku. “Hanya ini yang masih tersisa.  Dulu, lima tahun yang lalu, bunga ini masih berwarna merah, sekarang hanya berbentuk tangkai  nya aja yang masih tersisa. Semua orang yang kucintai   pergi  meninggalkanku, begitu juga teman-temaknku, mungkin karena statusku sebagai seorang penjahat.”
     “Jangan berkecil hati, Que. Semua pasti akan berubah menjadi baik asalkan kamu bisa engambil  pelajaran dari semua yang telah terjadi.”
   “Que, boleh aku tau siapa nama kekasihmu yang begitu rela meninggalkanmu di saat kamu benar-     benar membutuhkan dukungannya?”
Aku terkejut bukan kepalang. Hatiku kembali berdetak kencang tak karuan.
     “Lyd Semiola Febry”
Wajah Bu Lidia berubah seketika, matanya tajam menatapku.
    “Kamu nggak salah nama?” tanya Bu Lidia seakan mengetahui sesuatu.
  “Aku sangat yakin, Bu.”  Aku menjawab dengan lantang, “ini tangkai bunga yang dibawanya saat terakhir kali ia mengunjungiku di penjara,”  lanjutku sambil mengangkat tangkai bunga mawar yang mengering.
Sejurus kemudian, Ibu Lidia memeluk tubuh kurusku, “Que, ini aku Lyd,” ucapnya di balik  telingaku.
Aku sejenak terdiam shock mendengar pengakuan dari Bu Lidia yang mengaku sebagai Lyd.
    “Lyd?” tanyaku sambil melepas pelukannya.
    “Iya, aku Lyd, Lyd Semiola Febry,” katanya lantang sambil meneteskan air mata haru.
    “Tapi, Lyd,” ucapku terbata-bata.
    “Tapi kenapa?”
    “Aku adalah seorang mantan narapidana. Dan aku adalah fajar.”
   “Fajar yang akan selalu datang di saat sinarku akan redup,” lanjut Lyd tersenyum,  kemudian memelukku kembali.
***@@@***